ANGKARAJA — Penjualan motor listrik di Indonesia dinilai masih berjalan lambat atau “ngos-ngosan”. Direktur Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mengungkap sejumlah faktor yang membuat adopsi motor listrik belum maksimal, meski pemerintah terus mendorong kendaraan ramah lingkungan.
Alasan Penjualan Motor Listrik Lambat
Menurut Aismoli, ada beberapa faktor utama yang menjadi kendala penjualan motor listrik di Indonesia:
- Harga Awal yang Masih Tinggi
Motor listrik, terutama model premium, masih dibanderol lebih mahal dibandingkan motor konvensional. Hal ini menjadi hambatan bagi konsumen yang mempertimbangkan harga sebagai faktor utama pembelian. - Keterbatasan Infrastruktur Pengisian
Jaringan charging station dan stasiun penukaran baterai belum merata, terutama di kota-kota kecil atau daerah pinggiran. Konsumen khawatir akan keterbatasan akses pengisian saat perjalanan jauh. - Kebiasaan Konsumen
Sebagian masyarakat masih lebih nyaman dengan motor bensin, karena sudah terbiasa dengan efisiensi pengisian bahan bakar yang cepat dan jarang menghadapi masalah teknis. - Kurangnya Edukasi tentang Manfaat Motor Listrik
Masih sedikit konsumen yang memahami keunggulan biaya operasional rendah, perawatan sederhana, dan ramah lingkungan dari motor listrik. Edukasi publik dinilai belum merata.
Solusi yang Ditekankan Aismoli
Aismoli menekankan beberapa langkah yang bisa mempercepat adopsi motor listrik:
- Subsidi atau insentif pemerintah untuk menekan harga jual
- Peningkatan infrastruktur pengisian dan baterai swap di kota-kota besar dan kawasan strategis
- Kampanye edukasi tentang keuntungan motor listrik dibanding motor konvensional
- Kolaborasi dengan produsen dan dealer untuk menyediakan layanan purna jual yang handal
Menurutnya, kombinasi harga terjangkau, akses pengisian mudah, dan edukasi yang baik akan membuat motor listrik lebih diminati masyarakat.
Prospek Motor Listrik di Indonesia
Meski saat ini penjualan motor listrik lambat, Aismoli optimis prospeknya tetap cerah. Indonesia memiliki potensi besar sebagai pasar kendaraan ramah lingkungan, terutama di kota-kota besar yang menghadapi masalah polusi udara dan kemacetan.
Dengan dukungan regulasi, insentif, dan kesadaran masyarakat yang terus meningkat, motor listrik diyakini akan menjadi alternatif mobilitas utama di masa depan.
Kesimpulan
Penjualan motor listrik yang “ngos-ngosan” saat ini lebih disebabkan oleh kombinasi harga tinggi, infrastruktur terbatas, dan kebiasaan konsumen. Aismoli menegaskan bahwa langkah strategis berupa subsidi, edukasi, dan pengembangan infrastruktur akan menjadi kunci untuk mempercepat adopsi motor listrik di Indonesia.